JAEJA.ID – Minggu pagi itu, matahari bersinar hangat di Lapangan Sirio-rio, Kecamatan Towuti. Lapangan berubah menjadi taman seni alami yang penuh pesona.
Meja-meja berlapis kain merah menyala berjejer rapi, memamerkan keindahan bonsai dari berbagai bentuk dan usia.
Ratusan pengunjung berdatangan, menikmati mahakarya alam mini dari pohon serut, cemara udang, hingga Cucur Atap yang hampir punah.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, terlihat serius memperhatikan sebuah bonsai tua yang berdiri kokoh dan anggun.
BACA JUGA: Bahri Suli: Pemkab Lutim Bersiap Hadapi Dua Agenda Besar
Ia menyentuh batang kecil itu dengan hati-hati, seolah menghargai perjalanan panjang pohon mini tersebut.
Irwan secara resmi menutup Pameran Bonsai Jilid II yang diselenggarakan Komunitas Bonsai Area Towuti (Kombat).
Pameran itu sekaligus memperingati Hari Bumi 2025 dan ulang tahun kedua Kombat.
Selama tiga hari, para pecinta bonsai dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan berkumpul dan berbagi kecintaan terhadap alam.
“Melihat bonsai-bonsai ini seperti menikmati hutan mini yang menyejukkan hati,” ujar Irwan dengan penuh kekaguman.
Meski belum menjadi kolektor, Irwan mengaku mulai jatuh cinta pada bonsai.
Ia bahkan merencanakan mempercantik halaman rumah dinasnya bersama istri dengan koleksi pohon mini.
BACA JUGA: Bupati Irwan Sebut Lebih 2.000 Alumni UMI Berkontribusi di Luwu Timur
Sebagai bentuk dukungan, Irwan menyerahkan penghargaan kepada para juara dan menerima bonsai dari peserta sebagai cendera mata.
Ia pun berjanji menyiapkan ruang khusus untuk bonsai di perayaan HUT ke-22 Luwu Timur mendatang.
“Kelak saya ingin bonsai Luwu Timur tampil di pentas nasional,” ucapnya semangat di depan para pegiat bonsai.
Irwan juga menyerukan pentingnya melestarikan Cucur Atap sebagai tanaman khas daerah yang perlu dibanggakan.
“Bayangkan jika tanaman ini jadi ikon bonsai kita di setiap pameran,” katanya sambil menatap pohon kecil itu penuh harap.
BACA JUGA: Luwu Timur Siap Tindaklanjuti Pembentukan Koperasi Desa Merah Putih



