Dengan cara ini, penentuan usia seni cadas menjadi jauh lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Profesor Joannes-Boyau menambahkan bahwa teknik ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang bagaimana lapisan kalsium karbonat terbentuk di atas seni hias, sehingga peneliti dapat memetakan lapisan-lapisan tersebut secara lebih detail.
Penemuan lukisan di Leang Karapuang yang berusia lebih dari 51.200 tahun ini memiliki implikasi besar terhadap pemahaman kita tentang asal-usul seni manusia. Adhi Agus Oktaviana, ahli seni cadas dari BRIN, menjelaskan bahwa penemuan ini sangat mengejutkan karena karya seni dari zaman Es di Eropa yang paling terkenal belum ada yang mendekati usia lukisan gua Sulawesi ini. Beberapa karya seni di Eropa yang sebelumnya dianggap tertua, termasuk lukisan di Spanyol, tetap berada di bawah usia lukisan Leang Karapuang.
Selain itu, tim peneliti juga melakukan penanggalan ulang terhadap lapisan kalsium karbonat yang menutupi lukisan gua di situs Leang Bulu’ Sipong 4, juga terletak di Maros-Pangkep. Lukisan di Leang Bulu’ Sipong 4 menggambarkan adegan berburu yang melibatkan sosok therianthropes, makhluk setengah manusia setengah hewan, yang tengah memburu babi rusa dan anoa. Sebelumnya, lukisan ini diperkirakan berusia setidaknya 44.000 tahun. Namun, dengan penerapan teknik LA-U-series, usia lukisan ini direvisi menjadi sekitar 48.000 tahun, 4.000 tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya.
Profesor Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) di Griffith University, yang juga terlibat dalam penelitian ini, menyatakan bahwa temuan dari Leang Karapuang dan Leang Bulu’ Sipong 4 memberikan wawasan baru tentang pentingnya budaya naratif dalam sejarah seni manusia.
Menurutnya, temuan ini menggugurkan pandangan akademis yang telah lama diyakini bahwa seni gua awal hanya terdiri dari panel-panel individual tanpa adanya narasi yang jelas. Dalam seni hias prasejarah Eropa, gambar dengan cerita atau narasi baru muncul kemudian, namun lukisan di Sulawesi ini menunjukkan bahwa narasi visual sudah menjadi bagian dari seni gua manusia awal di Indonesia.



