JAEJA.ID – Desa Matano seperti terpencil dan sendiri. Jalanannya tak beraspal dan dipenuhi debu bila musim kemarau.
Penduduknya berladang, menanam sayur dan kakao, serta bekerja sebagai nelayan.
Desa ini jauh tertinggal dibandingkan Sorowako, kota yang tumbuh dengan pesat karena perekonomiannya ditopang oleh keberadaan perusahaan tambang PT Vale Indonesia (dulu PT Inco).
BACA JUGA: Cerita Perjuangan Sultan Hasanuddin, Sang Ayam Jantan dari Timur
Pada abad ke-14 desa ini dikenal sebagai Rahampu’u –tanah untuk orang pertama yang mendiami negeri.
Tanahnya merah dengan gunung dan bukit mengelilinginya –tanah merah secara geologi mengandung besi.
Desa ini pula yang diperkirakan menjadi cikalbakal kerajaan Luwu, yang dulu dikenal sebagai penghasil besi terbaik di Nusantara.
Desa Matano berada di Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Letaknya berada di pesisir danau.
Udaranya sejuk tapi mataharinya menyengat. Penampakan tanah yang hitam di sepanjang jalan utama yang bersisian dengan garis pantai Danau Matano.
“Itu sisa pembakaran dan peleburan besi,” kata Mahding.
Mahding, berusia 72 tahun, penduduk asli Matano. Tak jauh dari rumahnya, terdapat benteng yang membentang sepanjang 300 meter.
Benteng itu terlihat kokoh meski sudah dipenuhi tumbuhan liar. Menurut cerita masyarakat setempat, panjang benteng itu mencapai 500 meter, dibangun dari tumpukan tanah dengan bagian dalamnya diisi batu kapur.
Tujuannya untuk menghalau suku-suku yang hendak menyerang Matano.
Menurut Mahding, benteng itu seharusnya mengelilingi kampung yang didiami para pandai besi.
“Saya dengar cerita orangtua, ada 99 tempat pandai besi masa itu (di kampung ini). Jadi ramai sekali,” katanya.
Mahding memperlihatkan peninggalan para pandai pandai besi Matano. Ada palu, landasan pukul, tombak, parang, topi perang, piring, dan ceret.
Sekarang tak satu pun generasi mereka melanjutkan keahlian mengolah besi.



