JAEJA.ID – Bobibos tampaknya bisa menjadi solusi dari masalah kelangkaan BBM di Luwu Timur yang tak kunjung tertangani.
Redaksi Jaeja.id mencatat kelangkaan BBM di Luwu Timur sudah tahunan, sejak peristiwa rusaknya Jembatan Miring di Kota Palopo, Oktober 2021 silam.
Saat itu BBM jenis pertalite langka di Lutim karena memang suplai kurang akibat terbatasnya akses ke Luwu Utara dan Lutim.
Namun meski Jembatan Miring akhirnya bisa dilalui pada November 2021, kelangkaan BBM di Lutim tak berubah.
Saban hari, antrean di SPBU (seperti di SPBU Wotu dan Tomoni), jadi pemandangan lumrah.
Ironisnya, kondisi ini tak tertangani hingga hari ini atau sudah kurang lebih 4 tahun. Bahkan beberapa bulan terakhir kondisinya semakin parah.
Nyaris semua wilayah di Lutim langka pertalite. BBM jenis pertamax pun kerap tak ditemukan di SPBU maupun di Pertashop.
Anggota DPRD Luwu Timur, Rusdi Layong yang menyadari kondisi ini mulai angkat bicara dengan menggaungkan optimisme menyusul munculnya Bobibos.
Bobibos adalah singkatan dari ‘Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!’.
Ini merupakan inovasi bahan bakar nabati cair yang dikembangkan oleh M. Ikhlas Thamrin dan PT Inti Sinergi Formula sebagai alternatif energi terbarukan.
Bahan bakar ini dibuat dari limbah jerami padi dan tanaman lain yang diproses secara biokimia menjadi produk energi dengan klaim nilai oktan 98 (RON 98) dan emisi rendah.
“Kehadiran Bobibos dapat membantu daerah menghadapi kelangkaan BBM yang sering terjadi,” tulis Rusdi Layong pada laman Facebook miliknya.
Selain itu, inovasi ini dianggap mampu membuka peluang ekonomi baru bagi petani.
“Bobibos adalah energi baru yang membawa harapan bagi masyarakat. Bisa menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan energi,” lanjutnya.
Rusdi berharap Bobibos segera hadir di Luwu Timur dan menjadi solusi kelangkaan BBM yang sudah sangat menyiksa warga.
“Bobibos berpotensi mendorong ketahanan energi daerah. Dan saya melihat peluang pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat desa,” pungkasnya.(kin)



