JAEJA.id – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) menegaskan komitmen keberlanjutan dengan memperoleh fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai USD 750 juta (sekitar Rp13 triliun), ditambah opsi greenshoe sebesar USD 250 juta (Rp4,3 triliun).
Pinjaman sindikasi ini menjadi pertama kalinya bagi perusahaan dan menandai tonggak penting dalam strategi pembiayaan berkelanjutan.
Fasilitas ini didukung oleh 14 bank internasional dan mengalami oversubscribed 1,7 kali, mencerminkan kepercayaan tinggi terhadap fundamental bisnis PT Vale dan arah strategis keberlanjutannya.
Dana akan mendukung pengembangan proyek strategis, termasuk IGP Pomalaa, IGP Morowali, dan IGP Sorowako Limonite.
Seiring meningkatnya permintaan global nikel untuk baterai kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi, PT Vale memanfaatkan posisi strategisnya sebagai produsen nikel dengan intensitas karbon rendah.
Tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mendukung operasi perusahaan, dengan peningkatan kapasitas untuk mendukung elektrifikasi operasional.
Pinjaman sindikasi berbasis keberlanjutan ini merujuk pada Sustainability-Linked Financing Framework internasional.
Indikator kinerja utama (KPI) mencakup penurunan intensitas emisi karbon dan peningkatan penggunaan energi terbarukan.
Kedua KPI ini mendapat penilaian “strong” dari Second Party Opinion independen, selaras dengan target Paris Agreement 1.5°C dan kontribusi terhadap target NDC Indonesia.
Presiden Direktur dan CEO PT Vale, Bernardus Irmanto, menekankan pentingnya fasilitas ini dalam menyelaraskan strategi pembiayaan dengan agenda dekarbonisasi dan pertumbuhan jangka panjang.
“Kami berkomitmen menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon lebih rendah, serta mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” kata Bernardus.
Sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan, penyesuaian margin berbasis kinerja ESG akan dialokasikan ke program pengembangan masyarakat, memastikan manfaat finansial perusahaan turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional.


