“Banyak yang tidak pulang karena harus kembali bekerja keesokan harinya. Waktu yang nanggung membuat mereka memilih absen,” ungkap Lidiawati, yang akrab disapa Teh Lidia.
Namun, menurutnya, masalah ini bisa diminimalisir dengan sosialisasi yang lebih efektif dari penyelenggara Pilkada. Ia menemukan beberapa pemilih baru menerima undangan mencoblos satu atau dua hari sebelum pemilihan, sehingga tidak sempat pulang.
“Jika sosialisasi dilakukan lebih baik, partisipasi bisa meningkat. Ada juga pemilih yang tidak tahu siapa saja kandidat bupati dan wakil bupati. Ini menunjukkan sosialisasi belum maksimal,” tuturnya.
Meski mengkritik sosialisasi yang kurang efektif, Teh Lidia menilai kondisi ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi KPU. “Ini bukan berarti kinerja KPU buruk secara keseluruhan, tetapi ada banyak hal yang harus diperbaiki,” pungkasnya.
Rendahnya partisipasi pemilih di Pilkada Sukabumi 2024 menjadi catatan penting bagi seluruh pihak terkait. Diperlukan sinergi yang lebih baik antara penyelenggara pemilu, partai politik, dan kandidat untuk memastikan tingkat partisipasi masyarakat kembali meningkat di pemilu mendatang.



