Sebagai langkah konkret, Pemkab Lutim berencana mendatangkan bibit nanas dari Kediri untuk dibudidayakan di wilayah Wasuponda. Langkah ini dianggap penting sebagai pondasi awal membangun kawasan hortikultura yang kuat.
Pengelola BUMDes Sempu, Priyogi, menjelaskan bahwa ada tiga jenis nanas yang dikembangkan petani, dengan varietas Queen dan madu simpleg menjadi primadona pasar. Selain dijual sebagai buah, nanas juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti sari nanas yang kini menjadi unggulan agrowisata Sempu.
Kepala Desa Tabarano, Rimal Manukallo, salah satu peserta kunjungan, mengaku banyak mendapat inspirasi dari kunjungan tersebut. Ia menilai bahwa apa yang dilakukan Desa Sempu dapat direplikasi dengan adaptasi sesuai kondisi Tabarano.
“Tentu kami banyak belajar, terutama konsep wisatanya. Selanjutnya kita akan memetakan potensi untuk memperluas kawasan dan membangun berbagai sektor, termasuk infrastruktur penunjang,” ujar Rimal.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa Tabarano bersama Pemkab Lutim berkomitmen menjadikan desanya sebagai kawasan agroindustri dan agrowisata. Harapannya, upaya ini mampu menumbuhkan ekonomi lokal dan meningkatkan kesejahteraan warga Luwu Timur.
Kunjungan ke Sempu bukan sekadar belajar mengembangkan komoditas nanas. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi ruang bertukar gagasan, menjemput inspirasi, dan merencanakan transformasi ekonomi desa di Luwu Timur melalui inovasi berbasis potensi lokal.



