JAEJA.id – Anggota Komisi II DPRD Luwu Timur, Firman Udding, kembali menyoroti persoalan tata niaga gabah yang dianggap merugikan petani lokal.
Hal itu ia sampaikan saat berdiskusi dengan jajaran Perum Bulog di Jakarta, Rabu 3 Desember 2025.
Firman mengungkapkan bahwa lebih dari separuh gabah produksi Luwu Timur berpindah ke luar daerah setiap musim panen.
Legislator PKS itu menilai kondisi tersebut terjadi karena lemahnya kapasitas penyerapan negara.
“Kita tidak bisa membiarkan 60 persen gabah keluar tanpa kendali yang jelas,” ujar Firman.
Ia menegaskan bahwa situasi itu membuat daerah kehilangan pengaruh dalam menjaga stabilitas pangan.
Firman menyebut kapasitas penyimpanan yang tersedia hanya sekitar tujuh ribu ton. Ia menjelaskan bahwa gudang Bulog dan fasilitas penggilingan cepat penuh sehingga petani terdesak menjual kepada tengkulak.
“Petani mampu menghasilkan ratusan ribu ton, tetapi posisi tawarnya jatuh saat gudang penuh,” katanya.
Ia meminta pemerintah pusat memperbesar kapasitas gudang Bulog menjadi minimal sepuluh ribu ton agar stabilisasi harga dapat berjalan lebih efektif.(kin)



