Ketiganya diarahkan untuk memproduksi bahan baku baterai berupa Mixed Hydroxide Precipitate melalui teknologi pengolahan khusus.
Proyek di Pomalaa diproyeksikan memiliki kapasitas produksi hingga 120 ribu ton per tahun.
Sementara fasilitas di Morowali ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan kapasitas sekitar 60 ribu ton per tahun.
Langkah ini dinilai penting untuk menghubungkan aktivitas tambang dengan industri hilir, sekaligus mendukung agenda transisi energi.
Di tengah kondisi pasar yang tidak stabil, PT Vale tetap mencatat produksi nikel matte lebih dari 72 ribu ton.
Laba perusahaan juga tumbuh signifikan, didorong oleh efisiensi operasional dan kontribusi proyek baru.(*)



