JAEJA.id – Lonjakan harga komoditas global kembali menjadi perhatian industri tambang dan energi dunia.
Di tengah ketidakpastian pasar internasional, banyak pihak mulai mempertanyakan dampaknya terhadap proyek hilirisasi nikel yang sedang berkembang pesat di Indonesia.
Namun PT Vale Indonesia Tbk memastikan kondisi tersebut belum mengganggu proyek strategis yang sedang mereka jalankan.
Perusahaan menegaskan kenaikan harga sulfur global masih dalam batas yang dapat diantisipasi, termasuk terhadap proyek berbasis teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Head of Corporate Communication PT Vale Indonesia, Vanda Kusumaningrum, mengatakan sulfur memang menjadi salah satu bahan penting dalam proses pengolahan nikel, khususnya pada fasilitas HPAL.
Meski begitu, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas proyek.
“PT Vale Indonesia terus memantau secara aktif perkembangan harga komoditas global, termasuk sulfur, yang merupakan salah satu input dalam proses pengolahan nikel, khususnya pada teknologi HPAL,” ujar Vanda, Senin 27 April 2026.
Proyek Hilirisasi Tetap Sesuai Target
Menurut Vanda, fluktuasi harga sulfur merupakan bagian dari dinamika pasar global yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari harga energi dunia, kondisi geopolitik, hingga permintaan industri internasional.
Karena itu, PT Vale bersama mitra strategis telah memasukkan berbagai skenario harga dalam perhitungan keekonomian proyek sejak awal.
Strategi pengadaan jangka panjang, efisiensi operasional, dan optimalisasi desain proses juga terus dijalankan untuk menjaga daya saing perusahaan.
“Saat ini, kami belum melihat dampak material terhadap timeline maupun komitmen investasi proyek hilirisasi yang sedang berjalan,” katanya.
Proyek HPAL PT Vale sendiri merupakan bagian dari Indonesia Growth Projects (IGP) Pomalaa.
Fasilitas ini nantinya akan mengolah bijih nikel laterit kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku penting untuk industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).



