JAEJA.id – Di tengah aksi bersih sampah dan transplantasi terumbu karang di Pulau Bulu Poloe, Desa Harapan, Kecamatan Malili, Luwu Timur, terselip sorotan soal pengelolaan lingkungan.
Kegiatan bertajuk World Clean up Day yang melibatkan PT Citra Lampia Mandiri (CLM), aparat, pemerintah, komunitas, mahasiswa dan organisasi masyarakat, berlangsung pada Sabtu (26/09/2026), rencananya hingga Minggu (27/07) sore.
Pada sharing session, Sabtu malam, aktivis lingkungan Suaib Laibe mengingatkan agar program pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Suaib menyoroti program bank sampah yang menurutnya harus benar-benar berjalan dan memberikan dampak bagi pengurangan sampah.
Ia mempertanyakan apabila program hanya dijalankan ASN untuk memenuhi kebutuhan formalitas tertentu, termasuk dikaitkan dengan persyaratan cuti.
“Saya mengapresiasi program Bank Sampah Pemkab Luwu Timur, tapi jangan sampai itu hanya jadi formalitas bagi sebagian ASN,” ujarnya.
160 Ton Sampah Luwu Timur per Hari
Dalam kesempatan tersebut, Suaib menyebut produksi sampah di Luwu Timur mencapai sekitar 58 ribu ton per tahun atau sekitar 160 ton per hari.
Ia juga menyoroti masih terbatasnya sampah yang berhasil dikelola melalui berbagai sistem pengurangan sampah.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengelolaan yang lebih konsisten, bukan hanya mengandalkan kegiatan bersih lingkungan.
“Tempat wisata juga rawan menjadi sumber produksi sampah,” ujar Suaib, seraya menekankan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.
Bank Sampah Harus Berkelanjutan
Kritik tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan program lingkungan tidak cukup dilihat dari ramainya kegiatan.
Bank sampah perlu memiliki aktivitas nyata, mulai dari pemilahan, pengumpulan hingga pengelolaan sampah secara rutin.
Aksi bersih pantai dan transplantasi terumbu karang di Pulau Bulu Poloe menjadi langkah positif, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan tersebut tetap bersih setelah kegiatan berakhir.(kin)


