DARI pabrik pengolahan kedelai sederhana di Wawondula hingga industri nikel Sorowako, pertumbuhan ekonomi Luwu Timur menyimpan satu pertanyaan penting: sejauh mana kemajuan industri mampu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal?
Laporan: Jumaidil
DI usia 62 tahun, Nurtiani masih menjalani aktivitasnya di pabrik tahu-tempe miliknya di Wawondula, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.
Usaha yang dirintis sejak 1998 itu bukan sekadar tempat memproduksi tahu dan tempe, melainkan sumber penghidupan keluarga yang terus berkembang mengikuti peluang ekonomi di sekitarnya.
Perubahan besar terjadi ketika pabriknya mulai memasok tahu kepada perusahaan katering PT Patra, rekanan PT Vale Indonesia Tbk, pada 2015.
Sejak saat itu, permintaan meningkat dan kapasitas produksinya tumbuh hingga dua kali lipat.
Bukan cuma satu, Nurtiani kini melayani empat perusahaan katering.
“Tapi yang tiga itu tidak langsung ke Vale, cuma kasih makan juga karyawan Vale,” terang Nurtiani kepada Jaeja.id, Minggu, 11 Oktober 2026.
Sebelum menjalin kerja sama tersebut, pabrik Nurtiani memproduksi sekitar 150 kilogram tahu dan 100 kilogram tempe setiap hari.
Kini, jumlah produksi kedua komoditas itu meningkat menjadi sekitar 200 kilogram tahu dan 200 kilogram tempe per hari.
Perputaran uang usahanya pun meningkat dari sekitar Rp60 juta menjadi Rp120 juta per bulan.
Jika sebelumnya Nurtiani hanya menjual ke pasar atau melayani pesanan umum, kini ia lebih fokus memenuhi pesanan perusahaan katering mitranya.
“Alhamdulillah dari pabrik tahu ini, bisa menyekolahkan ketiga anak saya. Bahkan si bungsu bisa selesai S2 (pascasarjana),” ujarnya.
Di balik angka produksi dan perputaran usaha tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana peluang pasar dari ekosistem industri dapat membuka jalan bagi usaha lokal untuk berkembang.
Bagi Nurtiani, kerja sama dengan pemasok katering karyawan PT Vale menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan panjang usahanya.
Namun, kisah ini juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan tanpa hambatan.
“Pabrik saya kan di Wawondula, sering mati lampu, jadi produksi terhambat. Andai kami punya genset, tentu masalah ini bisa teratasi,” imbuh warga Jalan Danau Matano, Sorowako, itu.
Keluhan tersebut menjadi pengingat bahwa akses pasar saja belum cukup.
Infrastruktur dasar, terutama pasokan listrik yang andal, tetap menentukan kemampuan usaha kecil memenuhi permintaan dan menjaga produktivitas.

Ketika Pertumbuhan Industri Membuka Peluang Ekonomi Lokal
Pengalaman Nurtiani memberikan gambaran konkret tentang hubungan antara aktivitas industri dan ekonomi masyarakat.
Manfaatnya tidak harus selalu muncul dalam bentuk pembangunan fasilitas besar atau investasi bernilai tinggi.
Peluang juga dapat tumbuh melalui rantai pasok kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan yang dikonsumsi pekerja industri.
Di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, PT Vale Indonesia menjalankan kegiatan pertambangan dan pengolahan nikel yang menghasilkan produk nikel matte.
Perusahaan tersebut menjadi bagian dari industri yang mendorong aktivitas ekonomi di wilayah sekitarnya.
Dalam ekosistem itu, kebutuhan operasional perusahaan dan mitra pendukung dapat menciptakan pasar bagi berbagai jenis usaha.
Meski demikian, besarnya manfaat bagi masyarakat bergantung pada kemampuan pelaku usaha lokal memenuhi kebutuhan pasar, menjaga kualitas produk, dan membangun kemitraan yang berkelanjutan.
Kisah Nurtiani memperlihatkan salah satu bentuk hubungan tersebut. Pabrik tahu miliknya tidak memasok langsung kepada PT Vale, melainkan kepada perusahaan katering rekanan.
Pembedaan ini penting untuk menggambarkan rantai pasok secara akurat sekaligus menunjukkan bagaimana peluang ekonomi dapat menjangkau usaha di luar kawasan industri.
Tantangannya adalah memastikan semakin banyak usaha lokal memiliki kesempatan serupa.
Kemitraan yang sehat membutuhkan akses informasi, standar kualitas yang jelas, kapasitas produksi memadai, dan mekanisme pembayaran yang mendukung kelangsungan usaha.
Rantai Pasok Lokal, Buka Peluang Bisnis
Pengalaman Nurtiani memperlihatkan bahwa manfaat ekonomi industri dapat menjangkau masyarakat melalui jalur yang tidak selalu terlihat secara langsung.
Di balik aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel, terdapat kebutuhan pendukung yang membuka peluang bagi usaha pangan, perdagangan, transportasi, dan jasa.
Namun, keberadaan pasar belum otomatis membuat seluruh pelaku usaha lokal mampu mengambil bagian.
Setiap perusahaan memiliki kebutuhan, standar kualitas, kapasitas pasokan, dan mekanisme pengadaan yang perlu dipenuhi calon pemasok.
Karena itu, memperluas keterlibatan UMKM membutuhkan lebih dari sekadar mempertemukan pengusaha dengan calon pembeli.
Pelaku usaha juga memerlukan informasi mengenai peluang pengadaan, pendampingan peningkatan kualitas, kepastian pembayaran, serta kemampuan menjaga pasokan secara konsisten.
Bagi daerah penghasil nikel seperti Luwu Timur, rantai pasok lokal dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas manfaat ekonomi di luar aktivitas inti pertambangan.
Tantangannya adalah memastikan peluang tersebut dapat diakses lebih banyak usaha, bukan hanya mereka yang telah memiliki jaringan bisnis sebelumnya.
127 UMKM Menuju Pasar Lebih Luas
Upaya memperluas manfaat ekonomi lokal juga tercermin dalam program pemberdayaan UMKM PT Vale Indonesia.
Hingga 30 September 2026, perusahaan tersebut mendukung 127 UMKM di Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili. Dari jumlah itu, sebanyak 74 UMKM telah memperoleh akses pasar melalui Pusat Oleh-Oleh Telaloa.
Data tersebut menunjukkan jangkauan program sekaligus pentingnya akses pemasaran bagi pelaku usaha lokal.
Bagi UMKM, produk berkualitas belum tentu menghasilkan pendapatan memadai apabila tidak didukung saluran penjualan yang tepat.
Komitmen tersebut turut ditampilkan melalui Pekan Expo Koperasi dan UMKM pada 6–10 Oktober 2026 di Lapangan Iniaku, Sorowako.
Kegiatan dalam rangka peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan itu dihadiri Menteri Koperasi Ferry Juliantono, pemerintah daerah, gerakan koperasi, serta pelaku UMKM dari 23 kabupaten dan kota.
Dalam kegiatan tersebut, PT Vale menerima dua penghargaan sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.
Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan keberhasilan industri juga harus diukur berdasarkan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Melalui kegiatan operasi, pengembangan proyek hilirisasi dan pemberdayaan UMKM, kami bermaksud membuka lebih banyak peluang ekonomi agar masyarakat dapat tumbuh bersama perkembangan industri,” kata Bernardus.
Pernyataan tersebut menegaskan arah pemberdayaan yang ingin dibangun perusahaan.
Namun, keberhasilannya perlu dilihat bukan hanya dari jumlah UMKM yang didampingi atau kegiatan promosi yang diselenggarakan, melainkan juga dari perubahan nyata pada kemampuan usaha untuk bertahan dan berkembang.
Apakah omzet pelaku usaha meningkat? Apakah mereka mampu merekrut pekerja tambahan? Apakah akses pasar tetap terbuka setelah program pendampingan berakhir?
Pertanyaan tersebut penting untuk membedakan antara jangkauan program dan dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan penerimanya.
Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Jumlah Program
Jumlah UMKM yang mendapatkan pendampingan merupakan indikator penting untuk melihat jangkauan pemberdayaan. Namun, ukuran keberhasilan yang lebih mendasar terletak pada perubahan kondisi usaha setelah memperoleh dukungan.
Pertumbuhan omzet, penambahan tenaga kerja, peningkatan kapasitas produksi, dan keberlanjutan akses pasar dapat membantu menggambarkan dampak program secara lebih utuh.
Penilaian juga perlu melihat apakah usaha mampu bertahan ketika menghadapi kenaikan biaya operasional atau perubahan permintaan.
Dalam konteks ini, kisah Nurtiani memberikan gambaran konkret mengenai peluang yang terbuka sekaligus persoalan yang belum terselesaikan.
Peningkatan produksi dan perputaran usaha menunjukkan perkembangan, tetapi gangguan listrik masih berpotensi menghambat produktivitas.
Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa keberlanjutan ekonomi tidak cukup dibangun melalui perluasan pasar.
Dukungan infrastruktur, peningkatan kapasitas usaha, dan evaluasi berkala perlu berjalan bersama agar pertumbuhan tidak berhenti pada capaian sesaat.
Koperasi dan Fondasi Ekonomi yang Lebih Tangguh
Selain UMKM, koperasi menjadi bagian lain dari ekosistem ekonomi di sekitar kegiatan industri.
Koperasi Karyawan Vale, yang berdiri sejak 1979, kini memiliki lebih dari 1.300 anggota dan mengembangkan layanan ritel serta simpan pinjam.
Ketua Kopkar Vale, Muhammad Parawansa Lamude, menyampaikan bahwa koperasi terus berinovasi dan membangun kemitraan agar tetap relevan dengan kebutuhan anggota.
Keberadaan koperasi memperlihatkan pentingnya kelembagaan ekonomi dalam membantu masyarakat mengelola kebutuhan dan peluang usaha.
“Jika dikelola secara sehat, koperasi dapat memperkuat akses terhadap layanan ekonomi sekaligus membangun kebiasaan usaha yang lebih terorganisasi,” kata Parawansa.
Bagi Luwu Timur, pengembangan UMKM dan koperasi dapat menjadi bagian dari upaya memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.
Daerah penghasil nikel membutuhkan usaha lokal yang tidak hanya berkembang ketika industri tumbuh, tetapi juga memiliki daya tahan menghadapi perubahan harga komoditas dan dinamika pasar.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, menekankan bahwa koperasi harus berkembang menjadi kekuatan ekonomi rakyat yang mampu memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Saat membuka Pekan Expo Koperasi dan UMKM, Irwan menyebut koperasi tidak boleh berhenti sebagai lembaga administratif. Koperasi perlu menghubungkan potensi desa, produksi masyarakat, UMKM, dan pasar melalui rantai ekonomi yang terintegrasi.
“UMKM tetap memproduksi dan berusaha, sementara koperasi memperbesar pasar mereka. Koperasi tidak mengambil ruang ekonomi rakyat, tetapi memperluasnya,” tegas Irwan.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur mencatat, hingga 29 September 2026, sebanyak 77 dari 128 desa dan kelurahan telah memiliki bangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang rampung.
Enam lainnya masih dalam pembangunan, sedangkan 68 koperasi telah menerima kendaraan operasional untuk mendukung distribusi barang dan hasil bumi.
Menurut Irwan, peningkatan produksi saja tidak cukup untuk memperkuat ekonomi masyarakat. Pelaku usaha juga perlu mengetahui kebutuhan pembeli, standar kualitas, biaya distribusi, dan cara mempertahankan nilai tambah di daerah.
Pendekatan tersebut relevan dengan tantangan yang dihadapi UMKM seperti milik Nurtiani.
Peningkatan produksi dan perputaran usaha menunjukkan perkembangan yang berarti, sementara gangguan listrik masih menjadi kendala yang memengaruhi kelancaran produksi.
Dukungan kemitraan perlu berjalan beriringan dengan pembenahan infrastruktur, peningkatan kapasitas usaha, dan penguatan akses pembiayaan.
Dengan demikian, peluang pasar dapat berkembang menjadi fondasi usaha yang lebih kuat.
Menguji Keberlanjutan dari Ekonomi hingga Lingkungan
Hilirisasi nikel tidak hanya membawa pertanyaan mengenai distribusi manfaat ekonomi.
Aktivitas pertambangan dan pengolahan juga menghadirkan tanggung jawab terhadap lingkungan, mulai dari pengelolaan air, limbah, emisi, hingga reklamasi dan pemulihan lahan.
PT Vale mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air Larona, Balambano, dan Karebbe untuk mendukung kegiatan pengolahan nikel di Sorowako.
Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari sistem energi perusahaan, tetapi penilaian keberlanjutan tetap membutuhkan data terukur mengenai emisi, pengelolaan lingkungan, dan dampak operasional.
Karena itu, keberhasilan hilirisasi perlu dilihat secara menyeluruh.
Pertumbuhan produksi dan investasi penting, tetapi tidak dapat berdiri sendiri tanpa perhatian terhadap kualitas lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar wilayah operasi.
Dalam konteks ekonomi lokal, keberlanjutan juga berarti memastikan usaha kecil memperoleh kesempatan berkembang melalui hubungan pasar yang sehat.
Kisah Nurtiani menjadi salah satu gambaran tentang potensi manfaat tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa pelaku usaha masih menghadapi kendala yang memerlukan perhatian.
Pengalaman satu pelaku UMKM tentu belum cukup untuk mewakili seluruh masyarakat Luwu Timur.
Namun, kisahnya dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri bagaimana peluang ekonomi dari ekosistem industri bekerja, siapa yang memperoleh manfaat, dan hambatan apa yang masih perlu diselesaikan.
Pada akhirnya, menguji janji hilirisasi bukan berarti mempertentangkan pertumbuhan industri dengan kesejahteraan masyarakat.
Sebaliknya, pengujian diperlukan agar keduanya berjalan beriringan dan manfaat pembangunan dapat dinilai secara transparan.
Dari perut bumi Sorowako hingga pabrik tahu di Wawondula, masa depan Luwu Timur tidak semestinya hanya diukur melalui jumlah mineral yang diolah atau besarnya investasi yang masuk.
Ukurannya juga terletak pada kemampuan masyarakat membangun usaha, memperluas kesempatan kerja, menjaga lingkungan, dan menciptakan sumber penghidupan yang bertahan dalam jangka panjang.
Sebab, cadangan mineral memiliki batas. Sementara itu, keterampilan, usaha yang mandiri, infrastruktur yang memadai, dan lingkungan yang terjaga seharusnya menjadi warisan yang terus memberi manfaat bagi generasi berikutnya.(*)


