JAEJA.ID – Luwu Timur kini menginjak usia ke-22 tahun pada 3 Mei 2025, dengan berbagai pencapaian ekonomi yang patut diapresiasi, terutama dari sektor pertambangan, khususnya nikel.
Namun, di balik angka pertumbuhan ekonomi, muncul peringatan dari Direktur The Sawerigading Institute, Asri Tadda, mengenai ketergantungan daerah pada komoditas tunggal tersebut.
Menurut Asri, ketergantungan berlebihan terhadap sektor tambang akan membuat ekonomi Luwu Timur rentan terhadap gejolak pasar global yang tidak stabil.
“Ketika tambang terguncang, maka seluruh struktur ekonomi daerah ikut terdampak,” ujar Asri, Jumat 3 Mei 2025, dalam refleksi HUT Luwu Timur.
BACA JUGA: Beasiswa S1 Luwu Timur Kini Lebih Mudah, Tapi Pelanggaran Langsung Kena Sanksi
Ia mencatat bahwa sektor industri pengolahan tumbuh signifikan, bahkan mencapai angka 7,36 persen pada triwulan III tahun 2024 menurut data BPS.
Namun, inflasi juga meningkat menjadi 2,02 persen pada akhir tahun, tertinggi di Sulawesi Selatan, menunjukkan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Asri menyarankan pemerintah segera memulai diversifikasi ekonomi untuk menciptakan fondasi pertumbuhan yang lebih stabil dan tidak bergantung pada satu sektor.
“Tambang memang memberi pemasukan, tapi dampaknya terhadap lingkungan dan sosial juga besar jika tidak dikendalikan dengan baik,” kata Asri.
BACA JUGA: Luwu Timur Rayakan Hari Jadi ke-22, Simak Makna Logo dan Tema HUT Lutim
Ia menyoroti kerusakan lahan, pencemaran air, serta ketimpangan sosial yang makin tampak akibat eksploitasi sumber daya alam yang masif.
Menurutnya, pelibatan masyarakat lokal sangat penting agar mereka tidak hanya menjadi penonton dalam pembangunan daerah.
Asri juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan berbasis keterampilan industri.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Luwu Timur memang menurun ke angka 4,58 persen pada Agustus 2024, namun tantangan tenaga kerja masih besar.
BACA JUGA: Bupati Luwu Timur Beri 3 Hadiah Istimewa di Hardiknas 2025



