Proyek ini dimulai tahun 2025 dan bertujuan memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Selain manfaat lingkungan, RDF membuka peluang ekonomi baru. Proyek ini menciptakan lapangan kerja di sektor daur ulang, logistik sampah, dan pengelolaan limbah industri.
BACA JUGA: Luwu Timur Rayakan Hari Jadi ke-22, Simak Makna Logo dan Tema HUT Lutim
Bupati Irwan menegaskan pentingnya partisipasi warga. “Kita perlu kesadaran kolektif. Masyarakat harus aktif memilah sampah dari rumah agar RDF yang dihasilkan berkualitas,” jelasnya.
Politisi yang karib disapa Ibas itu menekankan bahwa RDF adalah bagian dari visi jangka panjang daerah.
“Langkah ini bukan proyek biasa. Ini adalah visi besar Luwu Timur: hijau, mandiri energi, dan berdaya saing,” tegasnya.
Sebagai pembanding, pada tahun 2023 Kabupaten Pangkep telah meresmikan fasilitas RDF pertama di Indonesia Timur, bernama RDF Plant Badriah.
Fasilitas ini dibangun melalui kerja sama antara Pemkab Pangkep, Pemprov Sulsel, PT Semen Tonasa, dan didukung pendanaan pemerintah.
Dengan langkah ini, Luwu Timur berharap menjadi pelopor pengelolaan sampah modern dan transisi energi bersih di Sulawesi.(kin)



