JAEJA.ID – Masalah kelangkaan BBM atau bahan bakar minyak di Luwu Timur semakin memicu keresahan masyarakat akibat antrean panjang di sejumlah SPBU.
Sebagian warga menuding maraknya pedagang eceran sebagai penyebab utama.
Namun, Anggota DPRD Luwu Timur, Muhammad Nur, menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, pengecer hanya memanfaatkan situasi ketika pasokan terbatas dan permintaan meningkat.
“Jangan salahkan pengecer di pinggir jalan. Mereka hanya memanfaatkan momentum kelangkaan. Masalah sebenarnya terletak pada lemahnya pengawasan di SPBU,” tegas Nur.
BACA JUGA: Warga Luwu Timur Keluhkan BBM Langka, DPRD Soroti SPBU Nakal
Muhammad Nur menambahkan, masalah BBM tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Tingginya pengangguran dan harga kebutuhan pokok membuat sebagian warga bertahan hidup dengan menjual BBM eceran.
DPRD Luwu Timur berharap adanya solusi komprehensif, mulai dari pengetatan pengawasan SPBU hingga kebijakan distribusi yang lebih merata bagi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Luwu Timur, Senfry Oktavianus menyebut kuota BBM bersubsidi tahun 2025 sebenarnya lebih besar dibanding tahun sebelumnya, mencapai rata-rata 16 ribu kiloliter.
Sayangnya, beberapa hari terakhir pasokan turun hingga hanya 8 ribu kiloliter.
Kondisi ini memicu kelangkaan, meski ia memastikan distribusi BBM akan kembali normal dalam satu hingga dua hari mendatang.(kin)



