Menariknya, semangat kebersamaan justru terlihat semakin kuat di tengah kondisi sulit tersebut.
Warga saling membantu membersihkan rumah tetangga, mengangkat material rusak, hingga memperbaiki fasilitas umum yang terdampak.
Respons cepat juga terlihat saat banjir merendam Desa Pesouha.
Tim Emergency Response PT Vale diterjunkan untuk membantu proses pembersihan lumpur di kawasan permukiman dan fasilitas umum.
Perusahaan bahkan menurunkan armada mobil pemadam kebakaran guna mempercepat proses pembersihan area terdampak banjir.
Senior Coordinator Stakeholder Relation Pomalaa PT Vale Indonesia, Adam Chlaid, menegaskan bahwa langkah cepat tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional.
“Kami berkomitmen untuk selalu responsif terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat. Kehadiran kami tidak hanya melalui program pengembangan, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan dukungan cepat saat terjadi bencana,” katanya.
Menurut Adam, keterlibatan perusahaan dalam situasi darurat merupakan bagian dari tanggung jawab sosial sekaligus bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekitar.
Jika ditarik ke konteks lebih luas, bencana yang terjadi di Pomalaa menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem kini semakin sering terjadi dan dapat datang tanpa peringatan panjang.
Karena itu, kesiapsiagaan menjadi hal penting, bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga perusahaan dan masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana.
Di tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan rumah yang masih rusak, warga Pomalaa kini perlahan mencoba bangkit.
Bagi mereka, bantuan yang datang bukan hanya soal sembako atau material bangunan, tetapi juga tentang hadirnya harapan di tengah musibah.(*)



