JAEJA.id – Di balik setiap helai anyaman teduhu, tersimpan kisah panjang tentang tradisi, ketekunan, dan harapan masyarakat Luwu Timur.
Kerajinan khas yang lahir dari tangan-tangan terampil warga itu kini mendapat panggung lebih luas setelah tampil dalam ajang Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2026 di Makassar.
Keikutsertaan produk kriya tersebut menjadi bagian dari komitmen PT Vale Indonesia Tbk dalam mendukung pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Regenerasi Pengrajin Jadi Fokus Pembinaan
Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PT Vale tidak hanya membantu memperkenalkan produk anyaman teduhu, tetapi juga membangun regenerasi pengrajin agar keterampilan tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, mengatakan perusahaan membina pengrajin muda berusia 16 hingga 23 tahun sebagai penerus para perajin senior yang telah menjaga tradisi ini selama puluhan tahun.
“Kami ingin memastikan anyaman teduhu tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Yusri.
Pendampingan yang diberikan mencakup pengelolaan bahan baku berkelanjutan, inovasi desain, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga perluasan akses pemasaran agar produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Saat ini, PT Vale mendampingi Komunitas Teduhu di Desa Nuha yang memanfaatkan pakis hutan sebagai bahan utama, serta Komunitas Sampa Konao di Desa Matano yang mengolah pelepah aren menjadi produk bernilai jual.
Dari Tradisi Menjadi Peluang Ekonomi
Bagi para pengrajin, dukungan tersebut membuka ruang untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.
Beragam produk seperti tas, kotak tisu, hingga aksesori rumah tangga kini hadir dengan desain yang lebih modern dan diminati pasar.
Pengrajin asal Desa Nuha, Yulianti, mengaku pembinaan yang dilakukan PT Vale telah membantu memperluas peluang usaha sekaligus mengajak anak-anak muda ikut melestarikan tradisi menganyam yang telah berkembang sejak dekade 1970-an.


