Mural tersebut menjadi simbol keberanian anak muda dalam mengekspresikan diri di ruang publik.
Malam harinya, panggung seni terbuka diisi oleh penampilan band lokal dan sanggar seni dari berbagai penjuru Luwu Timur. Beberapa di antaranya adalah FKfas, REPSITI, LARUKKA, Nafsoe, dan Wasuponda Music Community.
Menurut Taufik, salah satu penggagas sekaligus pengisi acara, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi tradisi tahunan.
“Kami ingin Pesta Komunitas menjadi ruang tumbuh, bukan sekadar euforia sesaat. Ini adalah gerakan bersama, bukan hanya agenda selebrasi,” tuturnya.
Acara ini menjadi bukti bahwa semangat kolektif dan kemandirian warga bisa membentuk ruang perayaan yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Pesta Komunitas menunjukkan bahwa peringatan hari jadi daerah bisa dirayakan dengan cara yang lebih segar, egaliter, dan partisipatif.(kin)



