Selain itu, PT Vale juga mencatat tonggak penting dengan memperoleh fasilitas pinjaman berbasis keberlanjutan senilai 750 juta dolar AS.
Skema ini menjadi yang pertama di sektor pertambangan Asia Tenggara dan memperkuat komitmen perusahaan terhadap praktik ESG.
Perusahaan juga mengalokasikan belanja modal sekitar 139 juta dolar AS untuk mendukung proyek pertumbuhan dan keberlanjutan operasional.
Bernardus menambahkan bahwa langkah ekspansi ini akan memperkuat posisi perusahaan di masa depan.
“Pada saat yang sama, kami memperluas portofolio komersial melalui dimulainya penjualan limonit dari Pomalaa, yang menjadi langkah penting dalam diversifikasi pendapatan dan keberlanjutan bisnis,” jelas Bernardus.
Dengan tren harga nikel yang diperkirakan tetap menguat, PT Vale optimistis dapat meningkatkan kinerja keuangan sepanjang tahun 2026, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.(*/kin)


