Sementara itu, di kalangan pemilih ekonomi mapan dengan pendapatan di atas Rp3 juta, 58,5% menyatakan bahwa petahana dapat dikalahkan, dengan 27,9% menilai petahana lemah.
BACA JUGA: Matano, Desa Pandai Besi yang Hilang dari Catatan Sejarah
Di kalangan pemilih petani dan nelayan, yang mencakup 35% populasi, mayoritas memandang petahana Budiman sebagai sosok yang lemah dan dapat dikalahkan, dengan 47,4% menyatakan demikian.
Sementara itu, di kelompok emak-emak (ibu rumah tangga), yang mencakup 33% populasi, sebanyak 50,6% juga menilai petahana lemah dan bisa dikalahkan.
Di segmen etnis, mayoritas etnis Bugis di Luwu Timur, sebesar 32,5%, menganggap petahana sebagai kandidat yang lemah dan dapat dikalahkan, dengan 58% mendukung pandangan tersebut.
Sementara itu, di kalangan etnis Toraja, yang merupakan kelompok etnis terbesar kedua, 19% menyatakan hal serupa, dengan 44,9% menilai petahana lemah.
Di segmen konstituen partai politik, hampir semua konstituen menilai Budiman sebagai petahana yang lemah.
Namun, di kalangan konstituen PDIP dan Golkar, pendapatnya terbelah.
Di antara pemilih PDIP, 36,2% menilai Budiman lemah, sedangkan 37,4% melihatnya sebagai petahana yang kuat.
Sementara itu, di pemilih Golkar, 37,5% menganggap Budiman lemah, sementara 38% menilai calon petahana cukup kuat.
Dengan beragamnya pertimbangan ini, pada Pilkada Luwu Timur 2024 mayoritas warga menyatakan bahwa bupati petahana Budiman Hakim adalah petahana yang lemah dari semua segmen pemilih yang ada.(*)



