1. Zero tolerance terhadap diskriminasi dan pelecehan
Ada kanal pelaporan whistleblowing dan Gender-Based Violence yang aman.
2. Fasilitas ramah perempuan
Ruang laktasi, APD yang disesuaikan ukuran tubuh perempuan, toilet terpisah di seluruh site.
3. Cuti dan fleksibilitas
Cuti melahirkan 4 bulan, Cuti Haid yang dapat diambil tanpa harus ada pemeriksaan ke dokter, cuti ayah, dan opsi kerja fleksibel untuk mendukung peran ganda.
Secara keseluruhan, kebijakan ini tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga dijalankan secara sistematis melalui pengawasan, pelatihan bias, serta integrasi ke dalam strategi bisnis dan tata kelola perusahaan.
Data perusahaan menunjukkan pekerja perempuan kini tersebar mulai level non staff, staff, senior staff, manajer, hingga posisi manajemen.
Bahkan di proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa dan Morowali, persentase pekerja perempuan sudah melampaui 20 persen.
Perusahaan juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang bagi pekerja perempuan seperti ruang laktasi, alat pelindung diri yang disesuaikan, toilet terpisah, hingga kebijakan cuti melahirkan selama empat bulan.
Selain itu, tersedia kanal pelaporan khusus terkait kekerasan berbasis gender dan diskriminasi di lingkungan kerja.
Bagi PT Vale, Hari Kartini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya kerja inklusif di industri pertambangan.
Perusahaan ingin memastikan perempuan tidak hanya hadir sebagai tenaga kerja, tetapi juga tumbuh sebagai pemimpin dan agen perubahan di masa depan industri berkelanjutan.
“Sektor ini terbuka bagi siapa pun yang memiliki kompetensi, semangat belajar, dan keberanian untuk berkembang, tanpa dibatasi oleh stereotip gender,” tulis perusahaan.
Sebagai bentuk dukungan internal, PT Vale juga membentuk komunitas Vale Women Network yang menjadi ruang pengembangan dan penguatan peran pekerja perempuan di lingkungan perusahaan.(kin)



