JAEJA.id – Selama bertahun-tahun, ribuan ton kakao dari Luwu Timur mengalir keluar daerah dalam bentuk bahan mentah.
Nilai ekonomi terbesar justru dinikmati industri pengolahan di wilayah lain. Kini kondisi itu mulai berubah.
Pemerintah Kabupaten Luwu Timur tengah mempercepat langkah menuju hilirisasi komoditas kakao melalui rencana pembangunan pabrik pengolahan di Kecamatan Tomoni.
Program tersebut digadang menjadi titik awal perubahan besar bagi sektor perkebunan lokal.
Jika selama ini petani hanya menjual biji kakao mentah, ke depan hasil panen mereka ditargetkan bisa diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Mulai dari bubuk kakao hingga lemak kakao yang memiliki pasar lebih luas.
Langkah itu dibahas dalam pematangan studi kelayakan yang melibatkan pemerintah daerah, lembaga teknis industri, dan badan usaha milik desa di Media Center Dinas Kominfo-SP, Selasa (12/05/2026).
Hasil kajian tersebut menjadi dasar sebelum proyek memasuki tahap berikutnya.
Tomoni dipilih bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut berada dekat dengan sentra perkebunan kakao sehingga dianggap mampu menekan biaya distribusi bahan baku sekaligus mempercepat rantai produksi.
Menariknya, proyek ini tidak hanya berbicara soal pembangunan pabrik.
Pemerintah daerah juga melihat peluang besar untuk menciptakan ekosistem industri baru yang melibatkan petani, koperasi, hingga pelaku usaha lokal.
Selama ini, salah satu persoalan utama yang dihadapi petani kakao adalah fluktuasi harga dan minimnya nilai tambah di tingkat produksi.
Ketika hasil panen dijual dalam bentuk mentah, keuntungan terbesar justru berada di sektor hilir.
Karena itu, kehadiran fasilitas pengolahan dianggap dapat menjadi solusi jangka panjang.
“Produk kakao yang telah melalui proses industri memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibanding bahan baku mentah,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kab Luwu Timur, Awaluddin Anwar.
Di sisi lain, lanjut Awaluddin, rencana pembangunan pabrik juga diproyeksikan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.



